Islam itu Indah, Islam itu Damai



Bali sebagai pulau dengan sebutan khas pulau seribu pura, memiliki masyarakat yang mayoritas menganut Agama Hindu, di tengah-tengah kehidupan masyarakat Hindu yang sarat dengan ritual dan tradisinya yang kental, masyarakat penganut agama selain  Agama Hindu tetap bisa berbaur dalam toleransi yang indah dan menjadi warna tersendiri di Bali.

Islam datang pertama kali ke Bali sekitar abad ke 13-14 M. Bermula dari kembalinya raja Kerajaan Gelgel dengan membawa sekitar 60 pengawal Majapahit. Sesampainya di Bali para pengawal majapahit menempati tempat yang kini menjadi Kampung Gelgel, dan dari sanalah Islam mulai berkembang di Bali.

Perkembangan Islam melahirkan berbagai kebudayaan dan tak lupa perkembangan kampung Islam. Terdapat beberapa kampung Islam yang tersebar di Bali, diantaranya : Kampung Loloan di Jembrana, Kampung Pegayaman di Jembrana, Kampung Gelgel di Klungkung, Kampung Kecicang di Karangasem, Kampung Islam Kepaon dan Kampung Wanasari di Denpasar.

Perkembangan Islam juga diikuti akulturasi budaya antara umat Hindu dan Islam tanpa meninggalkan Hukum Islam ataupun merusaknya. Seperti di Kampung Pegayaman yang menggunakan nama dengan ciri khas Bali, Nyenggol dan Tradisi Ngejot, Megibung di Desa Kepaon, Tabuh Rebana di Desa Air Kuning Jembrana, bahkan beberapa bangunan masjid yang mengikuti arsitektur pura Bali.

Dari penjelasan diatas hampir semua masyarakat di Kampung Islam tersebut memiliki garis keturunan asli Bali, mereka berkomunikasi menggunakan bahasa Bali dengan dialek daerah khas masing-masing, menerapkan sistem kerukunan lingkungan warga khas Bali (dikenal dengan istilah banjar), dan berinteraksi dengan masyarakat non muslim lainnya dengan baik dan rukun.

Layaknya di Jawa, penyebaran Islam di Bali dipengaruhi ajaran beberapa Wali yang disebut sebagai Wali Pitu, Mereka diyakini membawa pengaruh dalam penyebaran Islam di Bali. Beberapa dari makam tersebut juga ada yang dirawat oleh kaum Hindu dan Muslim, seperti makam Siti Khodijah dan makam Mas Sepuh.

Model dakwah para Wali itu tetap dijaga dan terawat hingga kini melalui pelestarian budaya baik dalam hal kesenian, ukhuwah, begitu pula sikap saling menghormati ritual keagamaan masing-masing dengan cara selalu bergotong royong dalam setiap kegiatannya.



Tinggalkan Komentar


© 2018 Buletin Dakwah Muslim Bali